Scroll Untuk Lanjut Membaca

Batam – BBcNews.co.id

Minggu,15 Juni 2025.

Mengingat adanya statment dari ketua organisasi wartawan PWI Kepri, yang menyatakan bahwa wartawan berkedok Premanisme dan blm memiliki sertifikasi, tim wartawan bin ri bertemu dengan salah satu tokoh penulis atau jurnalis untuk menjadi sebuah edukasi yang akrab disapa Bang Rio Parlindungan mengatakan ” Di tengah semaraknya dinamika kehidupan jurnalistik, kita dikejutkan oleh sebuah polemik yang sesungguhnya tak perlu terjadi—perselisihan soal siapa yang layak dikonfirmasi dan siapa yang tidak, berdasarkan status Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Ini bukan hanya perdebatan administratif; ini menyentuh akar dari nilai-nilai profesi kita sebagai insan pers: kejujuran, keterbukaan, dan kebersamaan.

Ironis. Kita yang mestinya menjadi penyambung suara rakyat, kini saling memotong suara satu sama lain. Kita yang seharusnya menjadi penjernih informasi, kini justru membiarkan keruhnya konflik menyeruak ke permukaan. Bukankah ini seperti jeruk makan jeruk? Sesama wartawan saling memangsa demi gengsi, pengakuan, atau kekuasaan?

Sebagai jurnalis, kita lahir dari tinta perjuangan. Kita bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan penafsir zaman. Tapi hari ini, kita malah terpeleset oleh sekat-sekat buatan. Ada yang merasa lebih layak bicara karena sudah UKW, ada pula yang dicap tak pantas karena belum bersertifikasi. Padahal, bukan sertifikat yang membentuk integritas seorang wartawan, melainkan hatinya, etikanya, dan keberaniannya berdiri untuk kebenaran.

Kita Bukan Lawan. Kita Kawan.

Saat organisasi pers saling sindir dan menyerang, publik hanya melihat satu hal: pers yang retak. Dan itu berdampak langsung pada citra kita. Wartawan kembali dicap “preman berkedok pena”, “pencari amplop”, atau bahkan “pengganggu”. Ini bukan hanya menyakitkan, tapi juga mengkhianati sejarah panjang perjuangan pers Indonesia yang penuh darah dan air mata.

Bukankah lebih mulia jika kita saling menggandeng tangan, bukan saling menuding? Bukankah lebih bermartabat jika kita membangun bersama, bukan menjatuhkan satu sama lain?
Saatnya Kembali ke Titik Nol

Mari kita kembali ke akar kita. Kita adalah insan yang bekerja untuk kebenaran. Tugas kita bukan saling membungkam, melainkan saling menguatkan. Bukankah lebih baik kita berpikir bagaimana menjadikan UKW atau SKW sebagai jalan bersama, bukan alat untuk menyisihkan?

UUD Pers No. 40 Tahun 1999 adalah rumah kita. Di dalamnya, tidak ada kasta. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Yang ada hanyalah pengabdian dan tanggung jawab. Kita berdiri sebagai satu tubuh yang bertugas mencerdaskan bangsa, mengedukasi masyarakat, dan menjadi corong suara mereka yang tak terdengar.

Wartawan: Lebih dari Profesi, Ini Jalan Hidup

Menjadi wartawan bukan sekadar pekerjaan. Ini jalan hidup. Jalan yang tak selalu lapang, tapi penuh cahaya bagi yang menjalaninya dengan niat tulus. Pena kita bisa membangun, bisa juga meruntuhkan. Kamera kita bisa menyorot kebohongan, tapi juga bisa menangkap keindahan nurani.

Saudaraku, meski kita berbeda organisasi, kita bersaudara dalam misi. Jangan redupkan cahaya sesama hanya karena beda label atau lambang. Karena jika semua cahaya padam, dunia akan gelap. Dan dalam gelap, tak ada kebenaran yang bisa terlihat.

Tuhan Maha Adil

Ia menciptakan kita dalam keragaman. Tapi bukan untuk saling menyingkirkan, melainkan untuk saling melengkapi. Kita semua punya peran. Dan bila kita bersatu, kita bukan sekadar kuat—kita jadi cahaya.

Kelak, mungkin di akhirat, Tuhan tak menanyakan apakah kita sudah UKW. Tapi Ia mungkin akan bertanya: “Apakah pena dan kameramu telah kau gunakan untuk kebaikan?”

Penutup: Mari Bangkit Bersama

Tulisan ini bukan kritik. Ini adalah seruan hati. Sebuah ajakan untuk merenung dan memperbaiki. Mari kita sambut setiap upaya profesionalisasi—dari PWI, AJI, IJTI, hingga organisasi lain—sebagai langkah menuju kemuliaan pers Indonesia. Tapi jangan jadikan itu alat untuk menyingkirkan saudara kita sendiri.

Kita bukan jeruk yang memakan jeruk.
Kita adalah pohon yang akarnya saling terkait, batangnya saling menopang, dan buahnya manis untuk bangsa.

*Mari kita buktikan bahwa jurnalis Indonesia bisa bersatu.Bukan karena seragam yang sama, tapi karena hati yang satu, Tutupnya.*

(Yudi).    BBcNews.co.id.