BBCnews.co.id, Batam – Bayangkan beli rumah impian, tapi ternyata lokasinya di lahan jurang yang cuma ditutup pagar? Itulah yang ditemukan Tim BBCnews.co.id setelah membaca brosur promosi cluster residence baru di Kabil, Nongsa, Batam dari pengembang bernama SG.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Di brosur, SG menawarkan rumah cluster tipe 38A, tipe 45, dan Town House dengan fasilitas lengkap: gate system, taman bermain, pusat kebugaran, pertokoan, rumah ibadah, dan ruang belajar. Tertarik mau cek website? Sayangnya, cuma muncul pesan “403 Error” – dan nama perusahaan bahkan tidak disebutkan jelas!

Yang lebih mengejutkan, alamat kantor pemasaran yang tercantum ternyata berada di belakang lahan yang belum pernah dipasang – sebagian bahkan masih jurang curam yang cuma ditutup pagar sebagai “lokasi perumahan”. Seolah-olah konsumen disiapkan untuk terjebak!

Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Batam (YLKB), Fachri Agusta, mengakui kepada BBCnews.co.id pada Rabu (4/12) bahwa di Batam, pengembang nakal memang marak dan sering memasang perangkap. Sebagai mantan Hakim BPSK Batam, dia menjelaskan: “Banyak pengembang tidak bermodal – mereka suruh konsumen beli dulu, ambil uang muka/cicilan, baru nanti urus izin!”

Investigasi kita juga menunjukkan, banyak konsumen perumahan Batam yang kecewa: marketing kabur, uang tidak dikembalikan, rumah dibangun asal-asalan, bahkan unit yang dijanjikan tak kunjung sampai. Padahal menurut UU Perlindungan Konsumen No. 8/1999, pengusaha wajib beritahu informasi yang benar dan jujur!

Sampai saat ini, WK Marketing SG yang diminta klarifikasi masih tidak menjawab panggilan dan pesan BBCnews.co.id. Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan?