BBCNews.co.id, Batam – Kota Batam kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Memasuki Februari 2026, intensitas dan cakupan wilayah terdampak banjir menunjukkan eskalasi signifikan, bahkan dinilai lebih parah dibandingkan periode 2024โ€“2025.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan data terbaru, Pemerintah Kota Batam mencatat sedikitnya 105 titik banjir yang kini mengepung berbagai wilayah. Kawasan padat penduduk seperti Batu Aji, Sagulung, Marina, dan Bengkong menjadi wilayah yang terdampak paling serius.

Tak hanya permukiman, akses mobilitas warga pun lumpuh akibat genangan air di ruas jalan utama, termasuk Jalan Yos Sudarso (Batu Ampar) dan Simpang Grand Mall Baloi.
Kegiatan Masif ‘Cut and Fill’ Jadi Biang Keladi
Bukan sekadar faktor alam, buruknya kondisi ini dipicu oleh aktivitas manusia yang masif. Kegiatan pemotongan bukit (cut and fill), penimbunan rawa, hingga reklamasi yang tidak terkendali menyebabkan hilangnya daerah resapan air. Akibatnya, air hujan langsung meluap ke permukiman karena sistem drainase yang ada tak lagi mampu menampung debit air yang meningkat tajam.

Kondisi Kian Mengkhawatirkan
Perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya menunjukkan tren yang mencekam. Jika pada tahun 2024 lokasi seperti Tembesi Tower mencatat rekor 35 kali banjir dalam setahun, di awal 2026 ini situasinya jauh lebih mengkhawatirkan. Wilayah yang sebelumnya dikategorikan “aman” kini mulai rutin terendam air.

Peringatan BMKG: Waspada Banjir Rob
Kondisi ini diperparah dengan peringatan dini dari BMKG Kelas I Hang Nadim terkait potensi hujan lebat yang dibarengi banjir rob di wilayah pesisir seperti Sekupang dan Nongsa.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada mengingat cuaca ekstrem diprediksi masih akan bertahan sepanjang Februari 2026.

Saat ini, Pemerintah Kota Batam tengah menargetkan penanganan intensif pada 105 titik tersebut dalam dua tahun ke depan. Namun, bagi warga yang setiap hari harus berjibaku dengan lumpur dan air, bantuan dan solusi nyata terasa sangat mendesak untuk segera direalisasikan.