BATAM, BBCNEWS.CO.ID – Sistem digitalisasi tiket kapal Roro di Pelabuhan Telaga Punggur yang digadang-gadang mempermudah akses masyarakat, kini justru memicu polemik. Alih-alih transparan, kendala pada sistem reservasi daring ini diduga menjadi celah bagi praktik percaloan yang mencekik calon penumpang.
Berdasarkan investigasi tim BBCNEWS.CO.ID di dermaga Pelabuhan Roro Telaga Punggur pada Rabu (4/3/2026), warga mengeluhkan sulitnya mengakses tiket online untuk rute primadona seperti Batam–Kuala Tungkal dan Batam–Tanjung Buton. Ironisnya, di tengah pesan “error” pada aplikasi, sejumlah oknum calo justru terlihat bebas menawarkan tiket fisik dengan harga jauh di atas tarif resmi PT ASDP Indonesia Ferry.
Salah satu oknum berinisial R, yang sehari-hari beroperasi di pelabuhan, secara terang-terangan menawarkan tiket mobil sedan tujuan Tanjung Buton, Riau, seharga Rp3 juta. Padahal, harga normal yang ditetapkan hanya berkisar Rp1,6 juta
“Rp3 juta ke Buton untuk keberangkatan besok (Kamis, 5/3/2026), bisa diadakan tiketnya,” ujar R dengan percaya diri saat ditemui di lokasi. Tak hanya kendaraan, tiket perorangan dewasa tujuan Kuala Tungkal juga digelembungkan menjadi Rp270 ribu per orang.
Kondisi ini membuat warga merasa terjepit. “Sangat sulit, aplikasi atau web sering error. Tapi pas di sini, tiba-tiba ada yang menawarkan tiket fisik dengan harga dua kali lipat. Ini sangat memberatkan,” keluh salah satu calon penumpang yang gagal melakukan reservasi mandiri selama berhari-hari.
Hingga berita ini diturunkan, praktik percaloan di Pelabuhan Telaga Punggur terpantau masih marak terjadi di tengah belum stabilnya sistem tiket online. Masyarakat kini mendesak pihak berwenang dan manajemen ASDP untuk segera membenahi infrastruktur digital serta melakukan pengawasan ketat di lapangan guna menghentikan praktik ilegal yang merugikan publik tersebut.





