BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Uma milik pengusaha berinisial AS kini tengah menjadi sorotan tajam. Pelabuhan tikus yang beroperasi hingga malam hari ini diduga kuat menjadi celah subur bagi praktik penyelundupan berbagai komoditas ilegal menuju Tanjung Balai Karimun.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sumber tepercaya kepada BBCNEWS.CO.ID, Minggu (1/3/2026), praktik culas ini disebut-sebut sudah berlangsung lama. Modusnya terbilang rapi: menyelundupkan barang-barang terlarang seperti daging impor, beras, hingga rokok tanpa pita cukai di sela-sela muatan resmi yang memiliki dokumen lengkap.
“Jika petugas Bea Cukai (BC) cermat dan tidak asal mengeluarkan dokumen, sebenarnya banyak barang ilegal yang diangkut bersamaan dengan barang-barang resmi,” ungkap sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan melalui sambungan telepon.
Sumber tersebut menambahkan bahwa mayoritas muatan kapal yang bertolak dari pelabuhan milik AS menuju Tanjung Balai Karimun kerap tidak sesuai dengan manifes yang dilaporkan. Campuran antara barang legal dan ilegal ini diduga sengaja dilakukan untuk mengelabui pemeriksaan petugas di lapangan.
Pantauan tim media di lokasi memperlihatkan kesibukan luar biasa sejak sore hingga larut malam. Deretan truk dan mobil boks tampak silih berganti memindahkan isi muatan ke lambung kapal. Namun, ironisnya, di tengah hiruk-pikuk aktivitas yang rawan penyimpangan tersebut, tidak terlihat satu pun petugas Bea Cukai Batam yang berjaga atau melakukan pengawasan ketat.
Kondisi ini memicu desakan agar BC Batam segera memperketat pengawasan dan tidak “tutup mata” terhadap aktivitas di Pelabuhan Tanjung Uma. Jika tidak segera ditertibkan, pelabuhan privat ini dikhawatirkan akan terus menjadi pintu masuk dan keluar utama bagi barang-barang gelap yang merugikan negara.





