BATAM, BBCNEWS.CO.ID – Sektor pariwisata Kepulauan Riau (Kepri) kini berada di titik kritis. Kenaikan tarif tiket ferry internasional rute Batam menuju Singapura dan Malaysia yang melonjak drastis sepanjang 2024 mulai memicu efek domino yang melumpuhkan ekonomi lokal.
Dahulu, pelancong cukup merogoh kocek Rp400.000 hingga Rp600.000 untuk perjalanan pulang-pergi (PP) Batam–Singapura. Kini, angka tersebut meroket hingga Rp730.000. Setali tiga uang, rute Malaysia pun membengkak menjadi Rp650.000. Meski operator berdalih pada kenaikan biaya BBM dan perawatan kapal hingga 40%, publik mulai meneriakkan kata “tidak masuk akal.”
Angka yang Bicara: Wisatawan Kabur
Data tidak bisa berbohong. Pada April 2024, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) terjun bebas sebesar 24,47%. Target ambisius Pemerintah Provinsi Kepri untuk mendatangkan 3 juta wisman tahun ini pun kini terancam jadi sekadar mimpi di siang bolong.

Dampaknya terasa nyata di garis depan ekonomi. Okupansi hotel merosot, meja-meja restoran yang biasanya riuh kini sunyi, dan pusat perbelanjaan mulai kehilangan daya pikatnya. Upaya Gubernur Kepri yang memangkas tarif sebesar Rp30.000 pada September lalu nyatanya hanya dianggap sebagai “kosmetik” belaka—terlalu kecil untuk mencairkan pasar yang sudah terlanjur mendingin.
KPPU Turun Tangan: Aroma Kartel Menyengat
Di tengah kegelisahan ini, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mulai bergerak melakukan investigasi mendalam. Ada dugaan kuat terjadi praktik kartel atau kesepakatan harga terselubung di antara para operator ferry yang menjaga tarif tetap tinggi di tengah jeritan publik.
Jika teka-teki harga ini tidak segera dipecahkan dengan regulasi yang adil, pemulihan ekonomi Batam pasca-pandemi diprediksi akan berjalan merangkak, tertinggal jauh dari wilayah tetangga yang lebih kompetitif. Kini, para pelaku usaha hanya bisa berharap pada ketegasan pemerintah: apakah konektivitas Selat Malaka akan kembali bergairah, atau justru semakin terisolasi oleh harga yang tak lagi bersahabat?





