BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Skema perlindungan asuransi bagi penumpang feri internasional di Batam kini tengah menjadi sorotan tajam. Alih-alih memberikan rasa aman, pungutan asuransi yang disatukan dalam komponen tiket atau seaport tax ini diduga kuat hanya menjadi ajang pundi-pundi keuntungan bagi pihak pengelola pelabuhan dan mitra asuransi swasta.
Berdasarkan penelusuran Gubernur LSM LIRA Kepri, Yusril Koto, Sabtu (14/3/2026), sistem asuransi ini telah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya asuransi dikenakan tarif flat sebesar S$1 dengan bukti kupon terpisah, kini biaya tersebut langsung “ditelan” ke dalam harga tiket. Perubahan ini nyatanya tidak diikuti dengan peningkatan layanan. Sebaliknya, identitas penyedia layanan asuransi kini didominasi oleh perusahaan swasta hasil kerjasama dengan pengelola pelabuhan, menggeser peran asuransi sosial negara, Jasa Raharja.
Keresahan penumpang memuncak ketika mengetahui bahwa proteksi yang mereka bayar tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai di negara tujuan. Hingga saat ini, tidak ditemukan adanya kantor perwakilan resmi maupun rumah sakit rujukan di Singapura maupun Malaysia bagi pemegang asuransi tersebut.
“Kita bayar asuransi di dalam tiket, tapi kalau terjadi kecelakaan di Singapura, kita bingung mau klaim ke mana. Tidak ada RS rujukan, ujung-ujungnya harus pakai biaya sendiri dulu atau sistem reimbursement yang rumit. Ini lebih mirip pungutan paksa daripada perlindungan,” keluh salah satu pengguna jasa feri rutin.
Kondisi ini pun memicu reaksi keras dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Saat ini, KPPU tengah melakukan penyelidikan mendalam di lima pelabuhan internasional Batam terkait dugaan praktik monopoli dan penyimpangan penunjukan perusahaan asuransi.
Selain masalah asuransi, lonjakan harga tiket feri Batam-Singapura juga dipicu oleh naiknya seaport tax dari Rp65.000 menjadi Rp100.000. Masyarakat mendesak BP Batam dan Dinas Perhubungan Kepulauan Riau untuk segera mengevaluasi transparansi biaya ini. Jangan sampai hak perlindungan penumpang dikorbankan demi mengejar margin keuntungan semata di gerbang internasional Indonesia.





