BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Masa depan ekosistem di kawasan Bandar Udara Internasional Hang Nadim Batam kini berada di titik kritis. Lahan yang semula berfungsi sebagai daerah resapan air dan benteng alam, kini terancam “dikepung” oleh masifnya pembangunan pabrik industri, pergudangan, hingga pertokoan.
Berdasarkan pantauan BBCNEWS.CO.ID, Sabtu (21/3/2026)di lapangan, dari total keliling lahan kawasan bandara yang mencapai 17 kilometer, sekitar 80 persen di antaranya tampak “botak” akibat aktivitas pengerjaan cut and fill. Area yang dahulunya merupakan hutan lindung dengan vegetasi tumbuhan keras, kini telah berganti rupa menjadi hamparan tanah merah dan deretan bangunan beton kawasan industri.
Kondisi ini memicu keprihatinan mendalam terkait hilangnya biodiversitas lokal. Hutan seluas 1.767 hektar yang sebelumnya menjadi habitat alami bagi kawanan kera dan berbagai satwa liar, kini dilaporkan mulai punah seiring dialokasikannya ratusan hektar lahan tersebut kepada pihak swasta.

“Dulu di sini masih rimbun, habitat monyet masih banyak. Sekarang hampir di setiap sudut pagar bandara sudah berdiri pabrik atau sedang perataan tanah,” ujar salah seorang warga yang kerap melintas di kawasan tersebut.
Masifnya pembangunan di lahan bandara ini menuai tanda tanya besar dari masyarakat terkait aspek lingkungan. Warga mempertanyakan efektivitas dan transparansi dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dalam proyek pembangunan kawasan industri tersebut.
Dikhawatirkan, penggundulan lahan yang begitu luas tanpa pengawasan lingkungan yang ketat tidak hanya akan memusnahkan flora dan fauna asli, tetapi juga meningkatkan risiko banjir serta gangguan ekosistem di wilayah penyangga bandara dalam jangka panjang.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat mendesak pihak pengelola kawasan dan instansi terkait untuk memberikan penjelasan terbuka mengenai kompensasi ekologis dan legalitas alokasi lahan yang dinilai mengabaikan fungsi perlindungan alam tersebut.





