BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Sebuah potret memilukan datang dari kawasan Tembesi, Batam. Di tengah sengketa lahan yang melibatkan korporasi besar, terdapat satu keluarga yang kini bertahan hidup dalam kondisi kesehatan yang sangat memprihatinkan.
Gubernur LSM LIRA Kepulauan Riau, Yusril Koto, yang turun langsung ke lokasi mengungkapkan rasa keprihatinannya yang mendalam. Ia menemukan pasangan suami istri yang hidup dalam keterbatasan. Sang suami kini menderita penyakit diabetes kronis yang terlihat jelas pada kondisi fisiknya. Tak hanya itu, putra mereka yang berusia 23 tahun terpaksa dirawat di rumah dengan bantuan selang oksigen karena ketiadaan biaya untuk pengobatan medis yang layak.
“Hati nurani saya tergerak melihat kondisi mereka. Satu-satunya harapan keluarga ini hanyalah lahan ini,” ujar Yusril Koto saat meninjau lokasi.
Menurut Yusril, persoalan ini bermula dari alokasi lahan seluas 10 hektar oleh BP Batam kepada PT Putra Jaya Bintan pada tahun 2022. Namun, faktanya keluarga tersebut telah menguasai lahan seluas 2,3 hektar di area tersebut sejak tahun 2005, jauh sebelum izin perusahaan keluar.
Dalam pernyataannya, Yusril memberikan pesan terbuka yang sangat keras namun menyentuh kepada pimpinan PT Putra Jaya Bintan untuk segera memenuhi kewajiban mereka dengan membayar ganti rugi atau membebaskan hak keluarga tersebut.
“Saya yakin Bapak (Pimpinan PT) tidak akan jatuh miskin atau susah hanya karena membayar hak mereka. Ingat Pak, harta tidak dibawa mati. Mudahan-mudahan dengan keikhlasan Bapak membayar hak mereka, hal itu menjadi amal yang melapangkan kubur Bapak kelak,” tegas Yusril.
Yusril menegaskan bahwa kehadirannya murni atas dasar kemanusiaan tanpa dipungut biaya sepeser pun. Kini, publik menanti bagaimana respons dan tindakan nyata dari pimpinan PT Putra Jaya Bintan dalam menyikapi persoalan kemanusiaan di atas lahan sengketa tersebut.





