BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Dunia pendidikan di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kembali diguncang kabar tak sedap. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Batam kini menjadi pusat perhatian setelah munculnya berbagai tudingan miring terkait buruknya efektivitas Proses Belajar Mengajar (PBM) serta dugaan praktik komersialisasi di lingkungan sekolah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kritik tajam ini dilontarkan langsung oleh Gubernur LSM LIRA Kepri, Yusril. Mantan Kepala SMK ini menyayangkan kondisi kedisiplinan pengajar yang dinilai merosot tajam sejak memasuki Semester II pada Januari 2026 lalu.

Berdasarkan data yang dihimpun per Sabtu (11/4/2026), dari rata-rata empat bidang studi dalam sehari, dilaporkan hanya satu guru yang hadir di kelas. Sementara itu, oknum guru lainnya diduga lebih memilih menghabiskan waktu di kantin saat jam pelajaran berlangsung.

“Siswa bahkan harus membujuk gurunya agar mau masuk kelas untuk mengajar. Ini sangat miris,” ungkap seorang sumber yang identitasnya dirahasiakan.

Tak hanya soal kehadiran, dugaan praktik eksploitasi siswa juga mencuat. Para siswa dari berbagai jurusan dikabarkan digilir untuk menjaga kantin milik oknum tertentu dan diwajibkan berjualan keliling ke tiap kelas. Ironisnya lagi, pada momen hari besar seperti Natal dan Lebaran, muncul dugaan siswa diwajibkan membeli kue dari guru sebagai syarat untuk mendapatkan nilai ujian.

Kekacauan administrasi juga merembet pada masalah keuangan. Siswa yang awalnya diminta sukarela membantu gaji satpam dan guru honorer, kini disebut wajib membayar iuran sekitar Rp 50.000 sejak akhir tahun 2025.

Menanggapi fenomena ini, Yusril menegaskan bahwa masa depan generasi muda dipertaruhkan. Ia menggunakan peribahasa keras untuk menggambarkan situasi moral di sekolah tersebut.

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Bagaimana karakter dan tanggung jawab siswa bisa terbentuk jika gurunya saja memberi contoh yang meresahkan seperti ini?” tegas Yusril.

Atas temuan ini, LSM LIRA mendesak Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri untuk segera mengambil langkah konkret. Yusril meminta jabatan Kepala SMKN 2 Batam, Drs. Refio, M.Pd., segera dicopot karena dianggap gagal total dalam mengelola institusi dan menjamin kualitas pendidikan.

“Kepala Sekolah harus bertanggung jawab. Jika tidak mampu memimpin dan mengelola PBM dengan benar, lebih baik dicopot agar tidak merusak masa depan anak bangsa,” tutupnya.