BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Dunia pendidikan di Kota Batam diguncang oleh sederet pengakuan mengejutkan dari para siswa dan orang tua murid SMKN 2 Batam. Alih-alih fokus mengasah skill kejuruan, para siswa diduga dijadikan mesin uang melalui praktik eksploitasi yang terstruktur dan sistematis.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan laporan yang masuk, Senin (13/4/2026), praktik “jualan paksa” menjadi momok paling menakutkan bagi siswa. Mereka diwajibkan menjual berbagai produk, mulai dari kue hari raya seharga puluhan ribu rupiah, parfum, hingga makanan kantin milik oknum guru. Ironisnya, jika dagangan tidak laku, siswa dipaksa membayar sendiri (nombok) demi mendapatkan nilai.

“Kami datang untuk belajar, tapi malah dipaksa jualan. Kalau tidak laku, kami yang harus bayar pakai uang jajan sendiri. Katanya demi nilai,” ungkap salah satu siswa yang enggan disebutkan namanya karena takut diintimidasi.

Tak hanya soal jualan, dugaan pungli berkedok uang komite dan paksaan hibah AC pun mencuat. Siswa juga melaporkan adanya kekerasan verbal dan mental oleh oknum guru berinisial S dan I, yang sering memaki dengan kata-kata kasar serta mempersulit proses perbaikan nilai. Bahkan, ada tuduhan serius mengenai oknum guru pria yang diduga melakukan pendekatan tidak wajar (chat intens) kepada siswi kelas 10.

Upaya membungkam suara siswa pun terjadi. Beberapa siswa mengaku ditekan untuk menghapus komentar di media sosial yang menyuarakan kebenaran ini. Intimidasi ini membuat suasana belajar di sekolah tersebut menjadi toksik dan penuh tekanan.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan diharapkan pihak Dinas Pendidikan Kepulauan Riau serta instansi terkait segera turun tangan untuk melakukan investigasi menyeluruh guna membersihkan praktik-praktik yang mencederai marwah pendidikan di Batam.