BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari salah seorang siswa SMK 2 yang mengungkapkan bobroknya sistem pendidikan dan dugaan pungli di sekolahnya. Melalui pesan singkat yang ditujukan kepada tokoh publik, Yusril, siswa yang identitasnya dirahasiakan ini membeberkan praktik “kerja rodi” berkedok mata pelajaran Praktik Kerja Kewirausahaan (PKK).
Siswa tersebut mengungkapkan bahwa dalam praktik di kantin minuman, setiap murid dibebankan target penjualan sebesar Rp100.000 per orang. Jika target tidak tercapai, siswa diancam tidak lulus (remedial). Ironisnya, demi mengejar angka tersebut, banyak siswa yang terpaksa membolos jam pelajaran lain atau bahkan merogoh kocek pribadi untuk “nombok” agar tidak terkena masalah.
“Banyak siswa yang uangnya habis karena perkara nombok, padahal ekonomi tiap keluarga tidak semua mampu,” tulis siswa tersebut dalam laporannya.
Tak hanya soal target penjualan, sekolah juga diduga melakukan pungutan liar (pungli) sebesar Rp40.000 hingga Rp50.000 per bulan dengan dalih untuk membayar gaji guru honorer. Siswa juga menyebut adanya paksaan membeli kue seharga Rp55.000 yang hasilnya diduga masuk ke kantong tenaga pengajar.
Bukannya melakukan evaluasi setelah keluhan ini viral di media sosial, pihak sekolah justru dituding melakukan intimidasi. Guru-guru disebut mulai mencari-cari kesalahan murid dan melontarkan sindiran pedas bagi mereka yang dianggap “memanaskan” situasi di media sosial.
“Kami cuma bisa berharap ada yang bersuara demi kami. Kalau kami bicara langsung, taruhannya adalah ancaman tidak naik kelas,” tutupnya dalam pesan tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah belum memberikan klarifikasi resmi terkait tudingan sistem target PKK yang memberatkan serta dugaan pungutan gaji guru tersebut.





