BBCNews.co.id, Padang – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol. Dedi Prasetyo memastikan bahwa pemeriksaan sidik jari dimaksimalkan dalam mengidentifikasi korban bencana alam di Sumatra Barat (Sumbar).
Hal tersebut dikatakannya saat meninjau Posko Ante Moortem milik Polda Sumbar di Rumah Sakit Bhayangkara Padang, Kamis.
“Tim menggunakan metode pemeriksaan sidik jari untuk mempercepat proses identifikasi korban bencana alam yang terjadi di Sumbar,” katanya.
Ia mengatakan pemeriksaan sidik jari itu melibatkan personel identifikasi yang memiliki keunggulan di bidang efisiensi serta tingkat akurasi hingga 99 persen.
Dengan demikian maka diharapkan jenazah yang ditemukan di lokasi bencana bisa segera diidentifikasi dan diketahui identitasnya.
Sementara, bagi korban yang sudah dalam kondisi tidak baik, langkah selanjutnya adalah menggunakan pemeriksaan DNA.
“Langkah selanjutnya adalah melalui tes DNA yang nanti akan dicocokkan dengan DNA milik keluarga, pemeriksaan akan dilakukan di Jakarta,” ucapnya.
Ia meyakinkan bahwa laboratoriumย DNA milik Polri di Jakarta telah memiliki peralatanย yang mumpuni, dan dalam kurun waktu tiga hari hasilnya bisa langsung disampaikan.
“Peran dari Tim DVI dan Inafis (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) terus kami maksimalkan sehinggaย jenazah yang ada bisa diselenggarakan di dimakamkan oleh pihak keluarga,” jelasnya.
Hingga Kamis hari ini, Tim DVI Polda Sumatera Barat melaporkan sebanyak 200 orang meninggal dunia akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumbar.
Dari jumlah tersebut, 174 korban telah berhasil teridentifikasi, sementara 26 korban lainnya masih dalam proses identifikasi.
Berdasarkan data Tim DVI dari 174 korban yang sudah teridentifikasi, 86 berjenis kelamin laki-laki dan 87 perempuan. Sampai saat ini Tim DVI masih terus melakukan proses identifikasi. (*)



