BATAM โ BBCNEWS.CO.ID | Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Batam kini menghadapi tekanan berat. Pasar domestik diguyur produk impor asal China yang dijual dengan harga super murah.
Banjir produk asing ini mendominasi sektor tekstil dan perlengkapan harian. Produk tersebut meliputi pakaian, permainan anak-anak, tas sekolah, koper, ikat pinggang, tas sandang, tas tangan, tas gunung, hingga sepatu berbagai merek. Berbagai barang tersebut kini menguasai sejumlah toko ritel dan pusat grosir di Batam.
Produk dari Negeri Tirai Bambu ini diduga kuat masuk secara ilegal melalui jalur penyelundupan. Praktik tersebut membuat barang impor terbebas dari beban bea masuk. Akibatnya, harga jual di tingkat konsumen menjadi sangat murah. Kondisi ini memukul telak produk lokal yang menyasar segmen pasar menengah ke bawah.
Pusat grosir besar di kawasan pertokoan Tanjung Pantun, Sei Jodoh, menjadi salah satu titik utama peredaran barang-barang ini. Dua toko grosir raksasa di kawasan tersebut diketahui menempati tiga ruko tanpa memasang plang merek usaha. Berdasarkan pantauan, kedua toko yang menjadi distributor ritel terbesar di Batam tersebut sama sekali tidak menjual produk buatan lokal. Seluruh komoditas yang dipajang murni merupakan barang impor dari China.
Situasi ini memicu kekhawatiran meluasnya kebangkrutan di tingkat perajin dan pedagang lokal jika arus barang ilegal tidak segera ditertibkan.





