BBCNews.co.id, Batam – Tragedi maut kembali terjadi, Selasa (17/2), sekitar pukul 19.50 WIB, di kawasan Bukit Aladin, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa. Kecelakaan tragis yang melibatkan sebuah sepeda motor, mobil Avanza putih, dan satu unit lori mengakibatkan dua anak perempuan meninggal dunia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan kronologi di lapangan, kejadian bermula saat korban yang berboncengan hendak pulang menuju Kapling Nongsa.

Saat melintasi tanjakan Bukit Aladin yang kondisinya rusak parah, sebuah mobil Avanza putih di depan mereka mencoba menghindari lubang dengan mengambil jalur berlawanan.

Naas, pengendara motor yang mencoba mendahului justru berhadapan langsung dengan sebuah lori dari arah berlawanan.

Benturan keras tak terhindarkan. Satu korban dilaporkan meninggal dunia seketika di lokasi kejadian, sementara rekannya yang merupakan siswi SMP Negeri 8 sempat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

Kekecewaan Terhadap Aparat dan Pemerintah Setempat
Kematian dua remaja ini memicu gelombang kemarahan warga, khususnya para pemuda di Kelurahan Sambau. Tragedi ini dinilai bukan sekadar kecelakaan murni, melainkan dampak nyata dari pembiaran kerusakan infrastruktur akibat aktivitas tambang pasir ilegal dan cut and fill yang merajalela di kawasan tersebut.

“Ini bukan kejadian pertama. Kami sudah berkali-kali melapor ke Lurah dan LPM Kelurahan Sambau terkait aktivitas tambang pasir ilegal, tapi tidak pernah digubris. Cut and fill dan pencucian pasir ada di mana-mana, bahkan masuk ke wilayah yang seharusnya hutan lindung,” ujar salah satu perwakilan pemuda Nongsa dengan nada kecewa.

Selain masalah jalan yang hancur akibat truk bertonase besar, warga juga mengeluhkan minimnya penerangan jalan umum (PJU) di kawasan Sambau yang banyak mati, sehingga membahayakan pengendara di malam hari.

Pemuda Nongsa Bersatu Akan Turun ke Jalan
Merasa aduan mereka ke pihak kelurahan dan LPM hanya dianggap angin lalu, para pemuda Nongsa menyatakan tidak akan tinggal diam. Mereka berjanji akan melakukan aksi nyata untuk menghentikan seluruh aktivitas perusakan lingkungan di wilayah mereka.

“Kami merasa mengadu ke Lurah dan LPM itu sia-sia. Maka dari itu, pemuda Nongsa akan bergerak dan bersatu. Kami tidak ingin ada lagi korban nyawa hanya karena kepentingan pengusaha tambang ilegal. Kami minta penindakan tegas sekarang juga!” tegasnya.

Masyarakat kini mendesak Pemerintah Kota Batam dan pihak Kepolisian untuk segera turun tangan menertibkan tambang pasir ilegal dan memperbaiki infrastruktur jalan serta lampu jalan sebelum jatuh korban berikutnya.