BATAM, BBCNEWS.CO.ID – Di balik transformasi Batam yang kini bersolek dengan jalanan lebar dan taman-taman asri, tersimpan sebuah ironi kelam yang menyesakkan dada. Para petugas kebersihan yang menjadi garda terdepan estetik kota ini diduga menjadi korban pelanggaran regulasi pengupahan yang sistematis.
Secara aturan, upah sebesar Rp3,4 juta di tengah ketetapan Upah Minimum Kota (UMK) Batam yang mencapai Rp5,3 juta bukan sekadar angka yang rendah—ini adalah bentuk pembangkangan hukum. Selisih Rp1,9 juta setiap bulannya bukan hanya soal “potongan administrasi”, melainkan perampasan hak hidup layak bagi mereka yang bergelut dengan aroma busuk limbah demi kenyamanan warga kota.
Saat warga menutup hidung saat melintas, para pekerja ini justru memeluk bau tersebut setiap hari. Namun, pengabdian itu dibalas dengan upah yang bahkan tak cukup untuk menutup biaya kontrakan dan pangan di kota dengan biaya hidup setinggi Batam.
“Batam boleh tampil mewah dengan jalanan lebar, tapi perut kami lapar,” mungkin itulah jeritan sunyi di balik setiap ayunan tangan mereka. Petugas kebersihan dipaksa menjadi martir bagi pujian “Batam Kota Bersih”, sementara dapur mereka sendiri seringkali tak berasap.
Seorang petugas armada sampah, Budi (40), menatap kosong saat ditemui Gubernur LSM LIRA Kepri, Yusril Koto, di Batam Center, pada Kamis (19/3/2026). Dengan suara lirih, ia menumpahkan getirnya kenyataan hidup.
“Setiap hari saya buat Batam bersih supaya orang-orang senang. Tapi tiap tanggal gajian, saya takut pulang ke rumah,” ujar Budi.
“Uang Rp3,4 juta di Batam itu cuma numpang lewat. Buat bayar kontrakan dan sekolah anak saja sudah habis. Kota ini memang makin cantik, tapi kami yang tukang angkutnya makin terjepit. Apa kami ini dianggap bukan manusia karena kerja di tempat kotor?”
Pernyataan Budi adalah tamparan keras bagi pemangku kebijakan. Jika Pemerintah Kota Batam mampu menganggarkan miliaran rupiah untuk aspal dan semen, lantas mengapa untuk membayar keringat manusia sesuai aturan UMK seolah tak mampu?
Publik kini menanti, apakah Batam akan terus melaju menjadi kota yang hanya “bersih fisiknya, namun kotor nuraninya” karena membiarkan praktik pengupahan di bawah standar terus langgeng di bawah terik matahari Kepulauan Riau.





