BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Keresahan melanda warga di sekitar wilayah Kampung Tengah, Batu Besar, Nongsa, Kota Batam, Kepulauan Riau akibat aktivitas pengerukan tanah yang dilakukan oleh PT Yabes Multi Karunia. Perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan batu dari tanah ini dituding melakukan penggalian yang terlalu dalam, sehingga dikhawatirkan memicu bencana longsor bagi rumah-rumah warga di sekitarnya.
Menurut laporan dari warga setempat yang enggan disebutkan identitasnya demi keamanan, kondisi lubang galian saat ini sudah mencapai kedalaman yang mengkhawatirkan, bahkan dinilai lebih ekstrem dibandingkan bekas tambang pasir. Selain ancaman longsor, dampak lingkungan langsung mulai dirasakan setiap kali hujan lebat melanda.
“Kalau hujan lebat, tanah dari lokasi pengerukan terbawa air banjir. Seperti terjadi hujan beberapa hari belakangan ini. Airnya berubah warna menjadi merah pekat dan masuk ke area pemukiman. Kami sangat takut jika tanah di sekitar sini tiba-tiba ambles karena pondasinya terus dikeruk,” ujar salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Lokasi operasional yang tertutup dan pengawasan ketat dari pihak perusahaan membuat warga sulit untuk mendokumentasikan kerusakan yang terjadi secara langsung. Meski demikian, titik lokasi tersebut telah terdaftar di peta digital sebagai area industri PT Yabes Multi Karunia.
Warga berharap pihak berwenang, baik dari Dinas Lingkungan Hidup maupun pemerintah daerah setempat, segera turun ke lapangan untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak). Melalui pengurus RT setempat, diharapkan ada mediasi dan peninjauan ulang terkait izin serta prosedur keselamatan lingkungan yang dijalankan perusahaan.
Hingga berita ini diturunkan, warga tetap mendesak adanya solusi nyata sebelum terjadi bencana yang dapat memakan korban jiwa akibat kondisi tanah yang semakin tidak stabil di Kampung Tengah.





