BATAM โ BBCNEWS.CO.ID | Transisi pengelolaan Terminal Peti Kemas di Dermaga Utara Pelabuhan Batu Ampar oleh operator tunggal asal Filipina, PT BTP/BACT, kini tengah menjadi sorotan tajam. Sejak resmi mengambil alih operasional sepenuhnya pada 15 Desember 2025 dan menggeser peran Perusahaan Bongkar Muat (PBM) lokal, kualitas pelayanan di pelabuhan tersebut dilaporkan merosot drastis.
Sejumlah pengusaha trucking dan pengguna jasa pelabuhan mengeluhkan sistem operasional yang dinilai tidak maksimal. Salah satu titik krusial yang menjadi kendala utama adalah kegagalan sistem gate otomatis serta prosedur SP2 (pengambilan kontainer) dan RC (pengantaran kontainer) yang tidak efisien. Alih-alih mempercepat arus barang, sistem baru ini justru memicu kemacetan parah.
“Kami sangat dirugikan. Untuk mengambil satu kontainer saja sekarang butuh waktu satu hingga dua jam. Antrean kendaraan bahkan mengular sampai ke jalan raya di depan eks Polsek Batu Ampar,” ujar salah satu perwakilan perusahaan trucking, Rabu (6/5/2026).

Lambatnya pelayanan di area yard BACT diduga kuat akibat minimnya ketersediaan alat pendukung yang tidak sebanding dengan volume kendaraan yang masuk. Dampaknya, biaya operasional perusahaan trucking membengkak signifikan, terutama di tengah tingginya harga BBM non-subsidi saat ini.
Kondisi ini ternyata turut memukul sektor industri manufaktur di Batam. Sejumlah pabrik mulai melaporkan keterlambatan pengiriman material yang mengganggu jadwal produksi. Jika terus dibiarkan, kemacetan logistik di Batu Ampar dikhawatirkan akan merusak iklim investasi dan daya saing ekonomi Batam sebagai kawasan industri strategis.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola pelabuhan didesak untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap ketersediaan alat dan efektivitas sistem digital demi menjamin kelancaran arus barang di gerbang utama ekonomi Kepulauan Riau tersebut.





