BBCNews.co.id, Batam – Wajah Kota Batam terancam kehilangan identitasnya. Bukit Clara, yang selama ini berdiri kokoh sebagai penjaga memori sejarah sekaligus rumah bagi landmark ikonik “Welcome To Batam”, kini berada di ambang kehancuran.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Arogansi penguasa dalam menerbitkan izin pembangunan gedung bertingkat dituding menjadi biang keladi hilangnya nilai historis di jantung Batam Center tersebut.

Bukit Clara bukan sekadar gundukan tanah. Di sana tersimpan jejak sejarah berupa tugu peninggalan Belanda yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang wilayah ini. Keberadaan tulisan raksasa “Welcome To Batam” di puncaknya pun telah lama menjadi magnet pariwisata sekaligus simbol kebanggaan warga Kepulauan Riau.

Namun, estetika dan nilai sejarah itu kini terancam tertutup oleh tembok beton. Kebijakan penguasa yang memberikan lampu hijau bagi pembangunan gedung setinggi enam tingkat atau lebih di kawasan tersebut menuai kecaman keras. Langkah ini dinilai sebagai bentuk pengabaian terhadap aspek pelestarian lingkungan dan budaya demi kepentingan segelintir pemilik modal.

“Ini adalah potret nyata arogansi penguasa. Seolah-olah sejarah dan marwah kota bisa dikomersialisasi tanpa sisa,” ujar salah satu pengamat tata kota yang menyayangkan rusaknya pemandangan (visual) landmark tersebut.

Slogan “Batam Kota Wisata” seakan menjadi pepesan kosong ketika kepentingan ekonomi jangka pendek diprioritaskan di atas segalanya. Publik kini melihat sebuah kenyataan pahit: di mata penguasa, tumpukan uang nampaknya jauh lebih menjanjikan daripada menjaga narasi sejarah dan potensi kepariwisataan jangka panjang.

Jika pembangunan ini terus melenggang tanpa evaluasi, Bukit Clara hanya akan tinggal nama dalam catatan kaki sejarah, terkubur oleh arogansi kekuasaan yang lebih memilih beton daripada warisan leluhur.