BBCNews.co.id, Batam – Perkembangan pesat Kota Batam sebagai pusat industri dan lokomotif ekonomi nasional menuntut kriteria kepemimpinan yang lebih konkret. Menjelang dinamika politik dan tantangan ekonomi global ke depan, Batam dinilai tidak lagi membutuhkan pemimpin yang hanya pandai dalam tatanan teoretis atau terjebak dalam letupan emosional, melainkan sosok eksekutor yang mampu menghadirkan solusi nyata.
Ketua Solidaritas Pemuda Larantuka Tionghoa (SPLT) Batam, Jupen Koten, menyebutkan bahwa kompleksitas masalah di Batam—mulai dari ketersediaan air bersih, infrastruktur transportasi, hingga kepastian investasi—memerlukan langkah cepat dan taktis. Pemimpin teoretis sering kali terjebak dalam perencanaan yang berkepanjangan tanpa hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Batam butuh pemimpin yang selesai dengan dirinya sendiri. Artinya, ia mampu mengontrol emosi di bawah tekanan dan fokus pada eksekusi solusi, bukan sekadar membangun narasi atau janji-janji di atas kertas,” ujar Jupen Koten di Batam Center, Minggu (22/2).
Lebih lanjut, karakter pemimpin eksekutor dianggap krusial untuk menjembatani koordinasi antara Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam agar tetap sinkron. Tanpa kematangan emosional dan ketegasan dalam bertindak, ego sektoral dikhawatirkan akan menghambat pertumbuhan ekonomi yang tengah dipacu.
Masyarakat kini semakin kritis dalam menilai rekam jejak. Harapannya, pemimpin Batam selanjutnya adalah mereka yang berani turun ke lapangan, mendengar keluhan warga, dan langsung mengeksekusi kebijakan yang menyentuh akar persoalan demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Kepulauan Riau, ujar Jupen mengakhiri pembicaraan





