BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Sebuah kisah memilukan datang dari seorang ibu muda berusia 25 tahun bernama Dita Feriza yang kini menetap di Sanglar, Kecamatan Reteh, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau. Niat hati pulang ke kampung halaman suaminya demi mencari perlindungan saat hamil tua, Dita justru terjebak dalam lingkaran kekerasan dan kesulitan ekonomi yang menghimpit.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dita asal Palembang, Sumatera Selatan, kepada redaksi BBCNEWS.CO.ID, Jum’at (1/5/2026), melalui pesan WhatsApp, mengatakan, ia sebelumnya merantau di Batam selama lima tahun, memutuskan kembali ke Sanglar pada September lalu. Ia berharap mendapat bantuan keluarga saat persalinan, namun kenyataan pahit yang ia temui. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, Dita mengaku sering menjadi korban pemukulan. Tak hanya dirinya, anaknya yang masih berusia 2 tahun pun kerap mendapat perlakuan kasar, termasuk dipaksa makan dengan cara yang tidak manusiawi.

Kondisi semakin memburuk pasca ia melahirkan anak keduanya pada Januari lalu. Minimnya asupan nutrisi membuat ASI-nya tidak keluar, sehingga sang bayi harus bergantung pada susu formula. Mirisnya, di tengah keterbatasan itu, ia dipaksa memberikan air putih kepada bayinya yang masih sangat kecil—tindakan medis yang berbahaya hingga menyebabkan sang bayi sempat tersedak.

“Suami saya jarang bekerja. Saat ibunya (mertua) memukul atau berbuat kasar, dia hanya diam saja,” ungkap Dita dengan nada getir. Ia juga merasa dikucilkan karena fitnah yang disebarkan di lingkungan sekitar, padahal ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.

Dita kini hidup dalam ketakutan dan kebingungan. Dengan orang tua yang sudah berpisah dan keberadaannya tidak diketahui, serta adik yang berada jauh di Bandar Lampung, Dita berharap ada pihak yang peduli dan bisa membantunya keluar dari situasi traumatis ini demi keselamatan dirinya dan kedua anaknya yang masih balita.

Melalui redaksi, Dita menyampaikan harapan besarnya agar ada pihak dermawan yang bersedia membantunya mengadu nasib ke Kota Batam. Baginya, Batam bukan sekadar tujuan perjalanan, melainkan harapan terakhir untuk mendapatkan pekerjaan demi menghidupi anaknya.

“Yang penting saya bisa kerja sambil menghidupi anak,” ujar Dita dengan nada penuh harap.