BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Seorang lulusan Sarjana Pendidikan Biologi dari Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Jw, mengungkapkan kepahitannya menghadapi carut-marut administrasi tenaga pendidik di Kota Batam, kepada Gubernur LSM LIRA Kepri, Yusril Koto, Kamis (23/4/2027). Setelah bertahun-tahun mengabdi, ia harus menelan pil pahit lantaran statusnya di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) tak kunjung berubah, sementara rekan sejawatnya melenggang mulus menjadi PPPK.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kisah ini bermula saat Jw mulai membantu mengajar di salah satu SMP Negeri di kawasan Sagulung pada tahun 2022. Meski memiliki latar belakang sebagai guru di sekolah swasta sejak 2019, statusnya di sekolah negeri tersebut justru tertahan sebagai Tenaga Kependidikan (Tendik), bukan Guru.

“Saya sudah berupaya sedemikian rupa, tapi belum ada pencerahan. Alasan regulasi anggaran BOS saat itu tidak memperbolehkan penggajian guru baru, sehingga status saya tidak diubah oleh kepala sekolah hingga beliau pensiun,” ujar Jw saat menceritakan keluh kesahnya.

Kejanggalan mulai dirasakan Jw saat melihat rekan kerjanya, yang hanya selisih tiga bulan masa kerja, berhasil mengubah status Dapodik dan kini telah pindah tugas setelah lolos seleksi PPPK. Hal ini memicu tanda tanya besar bagi Juwita, mengingat akses perubahan data di Dapodik merupakan kewenangan ketat dari operator Dinas Pendidikan.

“Saya sudah mengadu ke Dinas Pendidikan, BKD, hingga DPRD, namun hasilnya nihil. Kejadian ini sempat membuat saya memutuskan untuk berhenti mengajar karena merasa dizalimi oleh sistem,” tambahnya dengan nada kecewa.

Kini, di tengah kabar pembukaan besar-besaran CPNS dan PPPK tahun 2024 yang memprioritaskan guru bersertifikasi pendidik (Sertik), Jw merasa peluangnya tertutup. Karena statusnya masih terdata sebagai Tendik, ia tidak pernah mendapatkan panggilan Pretest PPG melalui akun SIMPKB miliknya.

Melalui pesan terbuka Yusril sampaikan, berharap ada pihak berwenang yang bersedia membuka ruang dialog dan memberikan solusi konkret atas status Dapodik Jw. Sebab, menurutnya, Juwita masih memiliki kecintaan yang besar pada dunia pendidikan dan ingin kembali mengabdi di depan kelas tanpa bayang-bayang ketidakadilan administrasi.

“Hati kecil saya masih ingin mengajar. Saya hanya berharap ada celah untuk kembali ke dunia pendidikan secara adil,” tutupnya.