TANJUNG UBAN – BBCNEWS.CO.ID | Gubernur LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kepulauan Riau (Kepri) mengungkap adanya dugaan praktik “main mata” terkait sandarnya kapal tanker pembawa minyak mentah (crude oil) di pelabuhan PT Pertamina Tanjung Uban, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau
Dugaan ini mencuat setelah kapal tanker MELTEMI terpantau melakukan aktivitas bongkar muat yang dinilai janggal. Kapal berbendera Liberia tersebut merupakan tanker raksasa buatan tahun 2009 dengan spesifikasi panjang 228,6 meter dan lebar 32,57 meter.
“Ada indikasi permainan oknum pejabat di internal Pertamina Tanjung Uban. Kapal MELTEMI yang membawa sekitar 70.000 metrik ton minyak mentah tersebut diduga memiliki tujuan asli ke pelabuhan lain, namun justru dibelokkan untuk sandar dan bongkar di dermaga Pertamina Tanjung Uban,” ujar Gubernur LIRA Kepri dalam keterangannya.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, seorang sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan mengklaim bahwa muatan puluhan ribu metrik ton minyak mentah tersebut merupakan milik pihak swasta. Sumber tersebut menyatakan bahwa pembayaran baru akan dilakukan setelah kapal tiba dan menyelesaikan proses bongkar muat di pelabuhan tujuan semula.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi mengenai mengapa kapal yang seharusnya menuju lokasi lain tersebut bisa berbelok dan mendapat izin sandar di fasilitas negara. LSM LIRA mendesak pihak penegak hukum dan manajemen pusat PT Pertamina untuk mengaudit prosedur masuknya kapal tanker MELTEMI guna memastikan tidak ada kerugian negara atau praktik ilegal dalam distribusi minyak mentah di wilayah Kepulauan Riau.





