BATAM – BBCNEWS.CO.ID | Gubernur LSM LIRA Kepulauan Riau, Yusril Koto, melayangkan kritik tajam terhadap kinerja BP Batam terkait krisis air yang melanda Kota Batam. Dalam keterangannya di Batam Center, Selasa (31/3/2026), Yusril menyebut BP Batam turut memberi andil atas menurunnya debit air di Waduk Mukakuning, yang merupakan sumber air baku terbesar di Batam.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menurut Yusril, penyusutan air bukan semata-mata karena faktor alam. Ia menyoroti masifnya penebangan hutan di area tangkapan air (catchment area) yang membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air secara stabil.

“Selain kurangnya curah hujan dalam waktu lama, penggundulan hutan membuat suplai air ke waduk terhenti, sementara penggunaan air oleh masyarakat terus berjalan tanpa henti,” tegas Yusril.

Yusril secara spesifik menunjuk adanya alih fungsi lahan yang dinilai ugal-ugalan. Ia mencontohkan perubahan status Hutan Lindung (HL) dan Hutan Produksi Konversi (HPK) yang kini berubah menjadi area properti di kawasan Panbil, tambak udang di Teluk Lengung, hingga area restoran di Tembesi.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti aktivitas pemotongan bukit (cut and fill) di berbagai titik di Batam yang diduga dilakukan tanpa kajian lingkungan hidup serta pengawasan yang ketat. Aktivitas ini dinilai berisiko tinggi menghancurkan daya tangkap air alami Batam.

Di akhir pernyataannya, Yusril mempertanyakan respons Kepala BP Batam, Amsakar Ahmad, yang dianggap baru bereaksi setelah dampak kekeringan mulai dirasakan masyarakat.
“Saat musim kemarau tiba dan debit air waduk sudah kritis, baru Kepala BP Batam bersuara. Lantas selama ini apa saja yang sudah diperbuat untuk pencegahan?” pungkas Yusril.