BATAM โ BBCNEWS.CO.ID | Gubernur LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kepulauan Riau (Kepri), Yusril Koto, menegaskan bahwa strategi promosi calon walikota pada Pilwako Batam 2030 mendatang harus bertransformasi secara total. Menurutnya, pemenangan yang efektif wajib mengombinasikan pendekatan personal, digital, dan struktural demi membangun kepercayaan pemilih secara masif di wilayah perkotaan.
Mengacu pada teori Political Marketing (3P: Push, Pull, dan Pass Marketing), Yusril memetakan strategi pemenangan ke dalam empat pilar utama yang saling terintegrasi.
Pilar pertama adalah Strategi Lapangan (Push Marketing). Pendekatan langsung ke akar rumput dinilai tetap menjadi kunci utama dalam membangun hubungan emosional dengan konstituen.”Calon pemimpin harus aktif blusukan ke pasar, permukiman padat, dan warung kopi untuk mendengar langsung keluhan warga. Selain itu, pengorganisasian relawan di tingkat RT/RW untuk kampanye door-to-door serta aksi nyata seperti bakti sosial, pasar murah, dan layanan kesehatan gratis sangat efektif menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat,” ujar Yusril.
Pilar kedua berfokus pada Strategi Media Digital & Kreatif (Pull Marketing) untuk membangun daya tarik, khususnya bagi pemilih Gen Z dan Milenial. Yusril menekankan pentingnya political branding dengan menampilkan karakter pemimpin yang bersih, tegas, merakyat, atau inovatif-teknokratis. Citra tersebut kemudian diamplifikasi melalui konten edukatif di Instagram, TikTok, dan YouTube, serta didukung oleh iklan digital bertarget berbasis wilayah kelurahan dan usia.
Selanjutnya, pilar ketiga melibatkan Strategi Pengaruh Tokoh & Komunitas (Pass Marketing). Strategi struktural ini memanfaatkan pengaruh pihak ketiga untuk melipatgandakan suara, mulai dari merangkul pemuka agama, ketua adat, tokoh pemuda, hingga masuk ke ekosistem komunitas lokal seperti serikat buruh dan asosiasi pedagang. Pendekatan terhadap influencer dan Key Opinion Leaders (KOL) lokal juga dinilai krusial untuk menggaet pemilih muda secara organik.
Sebagai pilar pamungkas, Yusril menyoroti Strategi Isu Pokok dan Diferensiasi Program (Product). Calon walikota harus mampu menawarkan solusi konkret atas problematika urban, seperti penguraian kemacetan, penanganan banjir, manajemen sampah modern, dan kemudahan izin usaha bagi UMKM. Program unggulan sektoral seperti beasiswa warga kurang mampu dan digitalisasi pelayanan publik (smart city) wajib dihadirkan sebagai pembeda dari kompetitor.
“Kombinasi keempat pilar ini akan menciptakan gelombang dukungan yang solid dan terukur, sekaligus menjadi peta jalan bagi calon walikota untuk memenangkan hati masyarakat di tahun 2030,” pungkas Yusril.






