BATAM โ€” BBCNEWS.CO.ID | Landmark ikonik raksasa “Welcome to Batam” (WTB) yang berdiri megah di kawasan Batam Center kini menghadapi ancaman serius seiring masifnya pembangunan komersial di sekitarnya. Tak hanya keindahan visualnya yang mulai terganggu, nilai sejarah dari lokasi berdirinya landmark tersebut yang dikenal sebagai Bukit Clara kini perlahan mulai terlupakan oleh publik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Gubernur LSM LIRA Kepulauan Riau (Kepri), Yusril Koto, mengungkapkan bahwa asal-usul nama Bukit Clara diyakini berasal dari keberadaan makam seorang warga keturunan Belanda bernama Clara. Berdasarkan literatur dan catatan sejarah lokal, perempuan Belanda tersebut meninggal dunia dan dikebumikan tepat di atas puncak bukit tersebut pada masa lampau.

Selain menjadi tempat peristirahatan terakhir Clara, bukit ini dalam rekam jejak sejarahnya juga sempat dikaitkan sebagai lokasi pengasingan atau area konflik yang melibatkan etnis Tionghoa, sebelum akhirnya ditata ulang oleh pemerintah daerah.

Namun, Yusril menyayangkan kondisi bukit bersejarah tersebut saat ini. Seiring berjalannya waktu, aktivitas pengerukan lahan dan deru pembangunan kota membuat fisik makam Clara tidak lagi terlihat jelas dan diduga telah tertutup semak belukar.

“Citra bukit ini sebenarnya sempat diubah menjadi lebih positif oleh Pemerintah Kota Batam pada tahun 2010 dengan membangun papan tulisan raksasa ‘Welcome to Batam’. Landmark yang menghadap ke Pelabuhan Internasional Batam Center ini ditujukan untuk menyambut kedatangan para wisatawan asing,” ujar Yusril.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kaki dan lereng Bukit Clara kini telah dipadati oleh kompleks rumah toko (ruko) baru. Masifnya proyek komersial ini bahkan memicu munculnya wacana pemindahan landmark “Welcome to Batam” ke area dekat Bandara Hang Nadim, lantaran pemandangan tulisan ikonik tersebut mulai tertutup oleh bangunan-bangunan tinggi.

Masyarakat dan pengamat sejarah berharap pemerintah daerah tidak hanya fokus pada aspek ekonomi dan pembangunan fisik, melainkan tetap menjaga estetika landmark kota serta tidak melupakan akar sejarah Bukit Clara.