BATAM โ€” BBCNEWS.CO.ID | Gubernur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kepulauan Riau (Kepri), Yusril Koto, melayangkan kritik tajam terhadap sikap Wali Kota Batam, Amsakar Ahmad, dalam merespons konflik sosial yang terjadi di Rempang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sorotan ini dipicu oleh pernyataan Amsakar yang dinilai tidak mencerminkan sosok pemimpin daerah saat dikonfirmasi oleh awak media. Ketika ditanya mengenai bentrok yang pecah di Rempang, Wali Kota Batam tersebut justru mengeluarkan pernyataan, “Saya lagi pusing,” sebuah jawaban yang dianggap publik sangat tidak berempati.

Menurut Yusril Koto, respons defensif dan acuh tersebut mengesankan bahwa Amsakar telah melupakan sumpah dan janji jabatannya. Sebagai kepala daerah, ia mengemban kewajiban konstitusional untuk menjalankan roda pemerintahan dengan sebaik-baiknya dan seadil-adilnya demi kepentingan seluruh masyarakat Batam.

“Sikap yang ditunjukkan oleh Wali Kota mencerminkan keengganan untuk mengembangkan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah,” ujar Yusril pada Rabu (26/8/2026).

Lebih lanjut, Yusril menegaskan bahwa seorang pemimpin di tingkat lokal seharusnya menjadi garda terdepan dalam mengawal hak-hak masyarakat serta memastikan ruang dialog tetap terbuka, terutama di tengah situasi krisis yang melibatkan hajat hidup orang banyak.

“Proses krusial untuk memastikan bahwa kekuasaan dari, oleh, dan untuk rakyat benar-benar terwujud di tingkat lokal tidak tampak dari figur Amsakar sebagai Wali Kota Batam,” tegas Yusril menutup keterangannya.

Sikap abai ini dikhawatirkan akan memperlebar jarak kepercayaan (trust gap) antara masyarakat Rempang dengan pemerintah daerah, di saat situasi justru membutuhkan kehadiran sosok pemimpin yang tenang, solutif, dan mengedepankan pendekatan humanis.